thinks thinks thinks thinks thinks thinks thinks thinks thinks thinks thinks thinks

Bersama Mentari

Mentari di pagi hari di lereng desa Karangrejo Karanganyar Jawa Tengah

Labirin Palaihari

Salah satu tempat wisata yang berada di agrowisata PKK Tambang Ulang, Kab. Tanah Laut Kalimantan Selatan

Wisata Bunga

Bunga yang cukup langka unik dan indah

Silaturahim Mudik 2012

Kegiata anak-anak saat berkunjung di Kota Karanganyar pada acara Silaturahim keluarga

Bukan Tukang Photo

Foto ini diambil must_eddy dalam perjalanan dari Pasar Apung kota Banjarmasin 8 September'16 di pagi hari (di https://www.flickr.com/photos/must_eddy)

Diatas Kendaraan dan Waktu Sholat Tiba

Ketika sedang berada diatas kendaraan dan sudah masuk waktu solat apa yang kita lakukan. Mungkin bagi kita yang sering melakukan perjalanan karena ketidaktahuan kita terkadang meninggalkan solat pada waktunya. Sementara solat adalah sebagai ibadah kita untuk memdekatkan diri kepada Allah. Apalagi dalam perjalanan artinya kita diberi kenikamatan bisa melakukan perjalanan, tentu kita mengingat Allah dimana kita berada.

Allah SWT berfirman :

... وَ اَقِمِ الصّلوةَ لِذِكْرِيْ. طه:14

…. dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. [QS. Thaahaa : 14]

فَاَقِيْمُوا الصَّلوةَ، اِنَّ الصَّلوةَ كَانَتْ عَلَى اْلمُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَوْقُوْتًا. النساء: 103

Maka dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. [QS. An-Nisaa' : 103]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: بُنِيَ اْلاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَ اِقَامِ الصَّلاَةِ، وَ اِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَ حَجّ اْلبَيْتِ وَ صَوْمِ رَمَضَانَ. احمد و البخارى و مسلم، فى نيل الاوطار 1: 333

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Islam itu terdiri atas lima rukun. Mengakui bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammat itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, hajji ke Baitullah dan puasa Ramadlan. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 333]

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: بَيْنَ الرَّجُلِ وَ بَيْنَ اْلكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ. الجماعة الا البخارى و النسائى، فى نيل الاوطار 1: 340

Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “(Yang membedakan) antara seseorang dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. [HR. Jama’ah, kecuali Bukhari dan Nasai, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 340]

عَنْ بُرَيْدَةَ رض قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اَلْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَ بَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ. فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ. الخمسة، فى نيل الاوطار 1: 343

Dari Buraidah RA, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kufur”. [HR. Khamsah, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 343]

Keutamaan Shalat.

اُتْلُ مَا اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ اْلكِت?بِ وَ اَقِمِ الصَّلو?ةَ، اِنَّ الصَّلو?ةَ تَنْه?ى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَ اْلمُنْكَرِ، وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ، وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ. العنكبوت: 45

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Qur'an dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Al-'Ankabuut : 45]

عَنْ اَنَسٍ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ اْلعَبْدُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ اَلصَّلاَةُ، فَاِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ وَ اِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ. الطبرانى فى الاوسط، فى مجمع الزوائد 2: 7، رقم 1608

Dari Anas, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Amal yang pertama-tama dihisab atas seseorang hamba pada hari qiyamat adalah shalatnya. Maka jika shalatnya baik, baiklah seluruh amalnya dan jika shalatnya rusak, rusaklah seluruh amalnya. [HR. Thabrani di dalam Al-Ausath, dalam Majma'uz Zawaaid juz 2, hal. 7, no. 1608]

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَثَلُ الصَّلَوَاتِ اْلخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ اَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ. مسلم 1: 463

Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan shalat lima (waktu) adalah seperti sungai mengalir dan melimpah di muka pintu salah seorang diantara kalian, lalu ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali". [HR. Muslim juz 1, hal. 463]

Bila kita sebagai musyafir (sedang tidak berada daerah sendiri) dan apalagi sedang diatas kendaraan (naik pesawat, kereta api, kapal laut dll) bila tidak ada atau kesulitan tempat solat kita bisa lakukan dimana kita duduk. Lalu bagaimana wudhunya. Tentang bersuci bisa dilakukan dengan wudhu atau tayammum.

Tayammum
Berikut saya ambilkan materi kajian ahad pagi tentang tayammum.

Tayammum adalah suatu syariat agama sebagai pengganti wudlu atau mandi janabat bagi yang hendak melaksanakan shalat karena sesuatu keadaan.

وَ اِنْ كُنْتُمْ مَرْضى اَوْ عَلى سَفَرٍ اَوْ جَآءَ اَحَدٌ مّنْكُمْ مّنَ اْلغَآئِطِ اَوْ لَمَسْتُمُ النّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَآءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَ اَيْدِيْكُمْ.... النساء 43 و المائدة:6

Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayammumlah kamu dengan tanah yang baik (suci), sapulah mukamu dan tanganmu. [QS. An-Nisaa’ : 43 dan Al-Maaidah : 6]

Keterangan :

Yang dimaksud orang sakit ialah, orang sakit yang apabila terkena air akan membahayakan baginya atau memperlambat kesembuhannya.

Termasuk dalam pengertian “tidak mendapat air”, ialah walaupun ada air tetapi tempatnya sangat jauh menurut ukuran yang umum, atau tempatnya berbahaya. Atau walaupun ada tetapi sangat sedikit/terbatas dan dipergunakan untuk keperluan penting lainnya (mencuci, memasak dan lain-lain), sehingga adanya seolah sama dengan tidak ada.

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّهَا اسْتَعَارَتْ مِنْ اَسْمَاءَ قِلاَدَةً فَهَلَكَتْ، فَبَعَثَ رَسُوْلُ اللهِ ص رِجَالاً فِى طَلَبِهَا. فَوَجَدُوْهَا فَاَدْرَكَتْهُمُ الصَّلاَةُ وَ لَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ، فَصَلَّوْا بِغَيْرِ وُضُوْءٍ. فَلَمَّا اَتَوْا رَسُوْلَ اللهِ ص شَكَوْا ذلِكَ اِلَيْهِ، فَاَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ ايَةَ التَّيَمُّمِ. الجماعة الا الترمذى

Dari ‘Aisyah, sesungguhnya dia pernah meminjam sebuah kalung dari Asma’, lalu kalung itu hilang. Kemudian Rasulullah SAW mengutus beberapa orang untuk mencarinya, lalu mereka menemukannya, lalu mereka menjumpai waktu shalat, padahal tidak ada air, lantas mereka shalat tanpa wudlu. Maka tatkala mereka datang kepada Rasulullah SAW, mereka mengadukan hal tersebut kepadanya, lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat tayammum. [HR. Jama’ah, kecuali Tirmidzi, dalam Nailul Authar I : 313]

عَنْ عَلِيّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اُعْطِيْتُ مَا لَمْ يُعْطَ اَحَدٌ مِنَ اْلاَنْبِيَاءِ. نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَ اُعْطِيْتُ مَفَاتِيْحَ اْلاَرْضِ، وَ سُمّيْتُ اَحْمَدَ وَ جُعِلَ لِيَ التُّرَابُ طَهُوْرًا وَ جُعِلَتْ اُمَّتِى خَيْرَ اْلاُمَمِ. احمد

Dari ‘Ali karramallaahu wajhah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Aku diberi sesuatu yang tidak diberikan kepada seorang pun dari para nabi-nabi, yaitu : Aku diberi kemenangan dengan rasa takut di pihak lawan, aku diberi kunci-kunci untuk menaklukkan beberapa negeri, aku diberi nama Ahmad, dijadikan tanah bagiku sebagai pensuci, dan dijadikan ummatku sebaik-baik ummat”. [HR. Ahmad, dalam Nailul Authar I : 307]

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: فُضّلْنَا عَلَى النَّاسِ بِثَلاَثٍ. جُعِلَتْ صُفُوْفُنَا كَصُفُوْفِ اْلمَلاَئِكَةِ، وَ جُعِلَتْ لَنَا اْلاَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا، وَ جُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُوْرًا اِذَا لَمْ نَجِدِ اْلمَاءَ. مسلم

Dari Hudzaifah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Kami diberi kelebihan atas manusia dengan tiga perkara, yaitu : Dijadikan barisan-barisan kami seperti barisan-barisan malaikat, dijadikan bagi kami bumi seluruhnya sebagai tempat shalat, dan dijadikan bagi kami debunya sebagai pensuci apabila kami tidak mendapatkan air”. [HR. Muslim, dalam Nailul Authar I : 308]

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فِى سَفَرٍ فَصَلَّى بِالنَّاسِ. فَاِذَا هُوَ بِرَجُلٍ مُعْتَزِلٍ فَقَالَ: مَا مَنَعَكَ اَنْ تُصَلّيَ؟ قَالَ: اَصَابَتْنِى جَنَابَةٌ وَ لاَ مَاءَ. قَالَ: عَلَيْكَ بِالصَّعِيْدِ، فَاِنَّهُ يَكْفِيْكَ. احمد و البخارى و مسلم فى نيل الاوطار 1: 300

Dari ‘Imran bin Hushain, ia berkata : Kami pernah bersama Rasulullah SAW dalam safar (bepergian), lalu beliau SAW shalat bersama orang banyak, tiba-tiba ada seorang laki-laki menyendiri, lalu beliau bertanya, “Apa yang menghalangi kamu untuk shalat ?”. Ia menjawab, “Saya sedang junub, padahal tidak ada air”. (Kemudian) Nabi SAW bersabda, “Gunakanlah debu, karena sesungguhnya ia cukup bagimu”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim, dalam Nailul Authar I : 300]

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ اْلخُدْرِيّ قَالَ: خَرَجَ رَجُلاَنِ فِى سَفَرٍ فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ وَ لَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ فَتَيَمَّمَا صَعِيْدًا طَيّبًا فَصَلَّيَا. ثُمَّ وَجَدَ اْلمَاءَ فِى اْلوَقْتِ فَاَعَادَ اَحَدُهُمَا اْلوُضُوْءَ وَ الصَّلاَةَ وَ لَمْ يُعِدِ اْلآخَرُ. ثُمَّ اَتَيَا رَسُوْلَ اللهِ ص فَذَكَرَا ذلِكَ لَهُ فَقَالَ لِلَّذِى لَمْ يُعِدْ: اَصَبْتَ السُّنَّةَ وَ اَجْزَاَتْكَ صَلاَتُكَ. وَ قَالَ لِلَّذِى تَوَضَّأَ وَ اَعَادَ: لَكَ اْلاَجْرُ مَرَّتَيْنِ. النسائى و ابو داود و هذا لفظه

Dari ‘Atha’ bin Yasar, dari Abu Sa’id Al-Khudriy, ia berkata : Dua orang laki-laki keluar dalam satu bepergian, lalu datang waktu shalat (padahal keduanya tidak membawa air), kemudian kedua orang itu bertayammum dengan debu yang bersih, lantas keduanya shalat. Kemudian (selesai shalat) mereka mendapati air dalam waktu itu. Lalu salah seorang dari padanya mengulangi dengan wudlu dan shalat, sedang yang lain tidak mengulangi. Kemudian kedua orang itu menghadap Rasulullah SAW, lalu menceritakan hal itu kepada beliau, maka Nabi SAW bersabda kepada orang yang tidak mengulangi, “Kamu sesuai dengan sunnah dan shalatmu sudah memadai”. Dan terhadap orang yang wudlu dan mengulangi, beliau bersabda, “Bagimu pahala dua kali”. [HR. Nasai dan Abu Dawud, dan ini adalah lafadh Abu Dawud, dalam Nailul Authar I : 311]

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: خَرَجْنَا فِى سَفَرٍ فَاَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَرٌ، فَشَجَّهُ فِى رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ اَصْحَابَهُ: هَلْ تَجِدُوْنَ لِى رُخْصَةً فِى التَّيَمُّمِ؟ فَقَالُوْا: مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَ اَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى اْلمَاءِ. فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ. فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ص اُخْبِرَ بِذلِكَ فَقَالَ: قَتَلُوْهُ قَتَلَهُمُ اللهُ. اَلاَ سَأَلُوْا اِذْ لَمْ يَعْلَمُوْا؟ فَاِنَّمَا شِفَاءُ اْلعَيّ السُّؤَالُ. اِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْهِ اَنْ يَتَيَمَّمَ وَ يَعْصِرَ اَوْ يَعْصِبَ عَلَى جُرْحِهِ ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهِ وَ يَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ. ابو داود و الدارقطنى

Dari Jabir, ia berkata : Kami pernah keluar dalam safar (bepergian), lalu salah seorang diantara kami kena batu, sehingga luka di kepalanya, kemudian ia mimpi keluar mani, lalu bertanya kepada kawan-kawannya, “Apakah kamu mendapatkan dalil yang membolehkan aku tayammum ?”. Mereka menjawab, “Kami tidak mendapati dalil yang membolehkan kamu tayammum, karena dapat menggunakan air”. Lalu ia mandi, kemudian ia mati. Maka tatkala kami sampai di hadapan Nabi SAW, hal itu diceritakan kepada beliau, lalu Nabi SAW bersabda, “Celaka mereka itu, karena mereka telah membunuhnya ! Mengapa mereka tidak bertanya. Jika tidak mengetahui, karena obatnya orang yang tidak tahu itu adalah bertanya. Sesungguhnya cukup baginya bertayammum dan membalut lukanya itu dengan sepotong kain, lantas ia mengusap di atasnya, dan membasuh seluruh badannya”. [HR. Abu Dawud dan Daruquthni, dalam Nailul Authar I : 301]

عَنْ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ اَنَّهُ لَمَّا بُعِثَ فِى غَزْوَةِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ قَالَ: احْتَلَمْتُ فِى لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ شَدِيْدَةِ اْلبَرْدِ، فَاَشْفَقْتُ اِنِ اغْتَسَلْتُ اَنْ اَهْلِكَ. فَتَيَمَّمْتُ، ثُمَّ صَلَّيْتُ بِاَصْحَابِى صَلاَةَ الصُّبْحِ. فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ص ذَكَرُوْا ذلِكَ لَهُ. فَقَالَ: يَا عَمْرُو، صَلَّيْتَ بِاَصْحَابِكَ وَ اَنْتَ جُنُبٌ؟ قُلْتُ: ذَكَرْتُ قَوْلَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ {وَ لاَ تَقْتُلُوْآ اَنْفُسَكُمْ، اِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا} فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ. فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ ص وَ لَمْ يَقُلْ شَيْئًا. احمد و ابو داود و الدارقطنى

Dari ‘Amr bin Al-‘Ash, sesungguhnya ketika ia diutus dalam peperangan Dzatus Salasil, ia berkata : Saya mimpi sampai keluar mani pada suatu malam yang sangat dingin. Kalau saya mandi, maka saya khawatir celaka, karena itu saya bertayammum. Kemudian saya mengimami kawan-kawan shalat Shubuh. Ketika kami sampai di hadapan Rasulullah SAW, lalu mereka menceritakan peristiwa itu kepada beliau. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Ya ‘Amr, apakah kamu telah mengimami shalat kawan-kawanmu padahal kamu junub ?”. Saya menjawab, “Saya ingat firman Allah ‘Azza wa Jalla (yang artinya : Dan jangan kamu membunuh diri-dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap kamu)” [QS. An-Nisaa’ : 29], lalu saya tayammum, kemudian shalat”. Maka Rasulullah SAW tertawa, tanpa mengatakan sesuatu apapun”. [HR. Ahmad, Abu Dawud dan Daruquthni, dalam Nailul Authar I : 302]

Cara tayammum :

Cara yang dituntunkan oleh Nabi SAW untuk melakukan tayammum adalah :

 =  Menepukkan tangan ke sembarang tempat yang suci dan mengandung debu dengan satu kali tepukan.

 =  Kemudian mengusapkannya ke wajah dan pada kedua tangan hingga pergelangan, atau tangannya dahulu kemudian wajah, dengan tanpa mengulangi menepuk tempat yang berdebu tersebut.

 =  Boleh pula dengan meniup-niupnya terlebih dahulu.

Hadits Nabi SAW :

عَنْ عَمَّارِ يْنِ يَاسِرٍ قَالَ: بَعَثَنِى رَسُوْلُ اللهِ ص فِى حَاجَةٍ فَاَجْنَبْتُ فَلَمْ اَجِدِ اْلمَاءَ فَتَمَرَّغْتُ فِى الصَّعِيْدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ، ثُمَّ اَتَيْتُ النَّبِيَّ ص، فَذَكَرْتُ ذلِكَ لَهُ. فَقَالَ: اِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْكَ اَنْ تَقُوْلَ بِيَدَيْكَ هكَذَا. ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ اْلاَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً، ثُمَّ مَسَحَ الشّمَالَ عَلَى اْليَمِيْنِ وَ ظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَ وَجْهَهُ. متفق عليه و اللفظ لمسلم

Dari ‘Ammar bin Yasir RA, ia berkata : Nabi SAW pernah mengutus saya untuk suatu keperluan. Kemudian dalam perjalanan itu saya berjunub, tetapi saya tidak memperoleh air, lalu saya berguling di tanah sebagaimana binatang berguling. (Setelah pulang) saya menghadap Nabi SAW, serta menceritakan pengalaman saya tersebut. Beliau bersabda, “Hanyasanya kamu cukup (bertayammum) dengan kedua tanganmu demikian”. Kemudian beliau menepukkan kedua tangannya ke bumi satu kali, lalu menyapu tangan kanannya dengan tangan kirinya serta punggung kedua telapak tangannya lalu mukanya. [HR. Muttafaq ‘alaih, dan lafadh itu bagi Muslim 1 : 280]

Dan dalam riwayat lain :

فَضَرَبَ النَّبِيُّ ص بِكَفَّيْهِ اْلاَرْضَ وَ نَفَخَ فِيْهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَ كَفَّيْهِ. البخارى و مسلم و اللفظ للبخارى 1: 87

Lalu Nabi SAW menepukkan kedua tangannya ke bumi, lalu meniup keduanya, kemudian menyapukannya ke muka dan dua tangannya (hingga pergelangan)”. [HR. Muttafaq ‘alaih, dan ini lafadh Bukhari I : 87]

Kesimpulan :

Tayammum adalah sebagai pengganti wudlu atau mandi junub bagi orang yang dalam keadaan sebagai berikut :

1.  Sakit, yang akan membahayakan atau memperlambat kesembuhan-nya bila terkena air.

2.  Orang yang tidak mendapatkan air, baik di tempat muqim maupun di tempat safar.

Adapun tentang musafir yang mendapat air, di sini ulama ada dua pendapat.

Pendapat pertama, orang musafir boleh tayammum sebagai pengganti wudlu atau mandi junub, walaupun ada air. Mereka beralasan dari pemahaman surat An-Nisaa’ ayat 43 dan Al-Maaidah ayat 6.

Pendapat kedua, orang musafir tidak boleh tayammum sebagai pengganti wudlu atau mandi junub, bila ada air. Mereka beralasan karena tidak adanya praktek dari Nabi SAW atau shahabat bertayammum diwaktu safar dalam keadaan ada air, bukan karena sakit atau udara yang amat dingin.

Sholat diatas Kendaraaan

عَنْ يَعْلَى بْنِ مُرَّةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص انْتَهَى اِلىَ مَضِيْقٍ هُوَ وَ اَصْحَابُهُ وَ هُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ وَ السَّمَاءُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَ اْلبِلَّةُ مِنْ اَسْفَلَ مِنْهُمْ فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَاَمَرَ اْلمُؤَذّنَ فَاَذَّنَ وَ اَقَامَ ثُمَّ تَقَدَّمَ رَسُوْلُ اللهِ ص عَلَى رَاحِلَتِهِ فَصَلَّى بِهِمْ يُوْمِئُ اِيْمَاءً يَجْعَلُ السُّجُوْدَ اَخْفَضَ مِنَ الرُّكُوْعِ. احمد و الترمذى، فى نيل الاوطار 2: 159

Dari Ya'la bin Murrah bahwasanya Nabi SAW bersama para shahabat sampai di suatu lembah. Beliau berada di atas kendaraannya, padahal langit di atasnya tertutup mendung dan di bawah sangat basah. Kemudian tibalah waktu shalat, maka beliau menyuruh mu'adzdzin supaya beradzan, lalu ia adzan dan iqamah. Kemudian Rasulullah SAW maju dengan tetap diatas kendaraannya, lalu shalat bersama mereka di atas kendaraan dengan berisyarat, beliau menjadikan sujudnya lebih rendah daripada ruku'. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 159]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ يُصَلّى سُبْحَتَهُ حَيْثُمَا تَوَجَّهَتْ بِهِ نَاقَتُهُ. مسلم 1: 486

Dari Ibu 'Umar, bahwasanya Rasulullah SAW dahulu shalat sunnah (di atas unta beliau dengan menghadap) menurut unta itu berjalan. [HR. Muslim juz 1, hal. 486]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى وَ هُوَ مُقْبِلٌ مِنْ مَكَّةَ اِلىَ اْلمَدِيْنَةِ عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ كَانَ وَجْهُهُ. قَالَ: وَ فِيْهِ نَزَلَتْ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ. مسلم 1: 486

Dari Ibnu 'Umar, ia berkata : Dahulu ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah dari Makkah, beliau shalat di atas kendaraannya (dengan menghadap) kemana saja kendaraan itu menghadap. Dan berkenaan dengan itu turun ayat (yang artinya), "Kemana saja kalian menghadap, maka di situlah wajah Allah". ~Al-baqarah : 115~. [HR. Muslim juz 1, hal. 486]

عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا اَرَادَ اَنْ يُصَلّيَ عَلَى رَاحِلَتِهِ تَطَوُّعًا اسْتَقْبَلَ اْلقِبْلَةَ، فَكَبَّرَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ خَلَّى عَنْ رَاحِلَتِهِ فَصَلَّى حَيْثُمَا تَوَجَّهَتْ بِهِ. احمد و ابو داود، فى نيل الاوطار 2: 192

Dari Anas bin Malik, ia berkata, "Adalah Rasulullah SAW apabila akan shalat sunnah di atas kendaraannya, beliau menghadap qiblat, lalu bertakbir untuk shalat, kemudian membiarkan kendaraannya, maka beliau shalat (dengan menghadap) kemana saja kendaraan itu menuju". [HR. Ahmad, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 192]

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ. فَاِذَا اَرَادَ اْلفَرِيْضَةَ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ اْلقِبْلَةَ. البخارى 1: 104

Dari Jabir, ia berkata, "Adalah Rasulullah SAW shalat (sunnah) diatas kendaraannya kemana saja kendaraan itu menghadap. Maka apabila akan shalat fardlu, beliau turun, lalu menghadap qiblat". [HR. Bukhari juz 1, hal. 104]

Tauhid

Allah Maha Pencipta


ياَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ(21) الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ اْلاَرْضَ فِرَاشًا وَّ السَّمَآءَ بِنَآءً وَّ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ
مَآءً فَاَخْرَجَ بِه مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ، فَلاَ تَجْعَلُوْا ِللهِ اَنْدَادًا وَّ اَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ(22) البقرة:
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (21)
Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (22) [QS. Al-Baqarah : 21-22]

Orang-orang musrik dahulu mengenal dan percaya pada Tuhan :
Allah SWT berfirman:

وَلَئِنْ  سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ  لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ ۚ  فَاَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ
 
"Dan jika engkau bertanya kepada mereka, Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Pasti mereka akan menjawab, Allah. Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran)." (QS. Al-'Ankabut: Ayat 61)

 وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ  


Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?,  (QS. Az-Zukhruf: Ayat 87)


Allah SWT berfirman:

 اَ لَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ    ؕ  وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ  ۘ  مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى    ؕ  اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ    ؕ  اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ

"Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar." (QS. Az-Zumar: Ayat 3).


Inilah tauhid Rububiyah bahwa mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya, pencipta alam semesta ini adalah Allah, dan orang-orang musrik jaman dahulu mengetahui.  Tetapi dalam peribadatannya (Tauhid Uluhiyyah) tidak demikian seperti dijelaskan dalam ayat berikut ini.

Demikianlah alasan orang-orang musrik dahulu menyembah berhala, rahib-rahibnya, para ulama'nya karena agar mereka bisa mendekatkan pada Allah.



اِتَّخَذُوْۤا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ  ۚ  وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَـعْبُدُوْۤا اِلٰهًا وَّاحِدًا  ۚ  لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ   ؕ  سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

"Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan."
(QS. At-Taubah: Ayat 31)


Rugilah kita menjadikan sandaran hidup dan  tempat meminta kepada apa saja selain Allah, diibaratkan dalam Al Quran adalah bersandar pada sarang laba-laba yang rapuh. 

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Artinya : “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 41)

Share:

Cempedak

Buah Cempedak
Cempedak adalah tanaman buah-buahan dari famili Moraceae. Bentuk buah, rasa dan keharumannya seperti nangka, meski aromanya kerap kali menusuk kuat mirip buah durian. Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara, dan menyebar luas mulai dari wilayah Tenasserim di Burma, Semenanjung Malaya termasuk Thailand, dan sebagian Kepulauan Nusantara: Sumatra, Borneo, Sulawesi, Maluku hingga ke Papua. Juga banyak didapati di Jawa bagian barat.
 
Dikenal secara luas sebagai cempedak atau campedak, buah ini juga memiliki beberapa nama lokal seperti bangkong (cempedak hutan, bentuk liar di Malaysia)[2], baroh (Kep. Lingga dan Johor), nangka beurit (Sunda), nongko cino (Jawa), cubadak hutan (Minangkabau) tiwadak (Banjar) dan lain-lain.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Cempedak). 

Cempedak Goreng
Orang Banjar mana yang tidak kenal dengan cempedak, pada orang tertentu cempedak bisa menjadi makanan favorit  yang dapat kita temukan di Banjarbaru Kalimantan. Cempedak bisa kita makan dalam keadaan segar atau dapat kita olah sebagai camilah dengan rasa mirip nangka. Buah cempedak bisa di goreng dengan campuran terigu gula dan garam, sedangkan bijinya dapat di goreng, direbus atau dibakar. Kulit dalam cempedak jangan dibuang karena kulitnya bisa menjadi makanan favorit Anda bisa disayur atau di goreng dijadikan makanan yang dikenal dengan nama mandai. Belum ke Banjar kalau belum merasakan makan mandai.

Mandai
Mandai diambil dari kulit cempedak yang diiris dan direndam dalam air garam agara awet dan melunakkan teksturnya kulitnya. Cempedak bagi masyarakat Banjar sangat mudah didapatkan pada musim-musim tertentu harga tergantung berat, rata-rata harga 15.000 sampai dengan 20.000 tergantung ukuran. Demikian sekilas tentang buah cempedak, dan jangan lupa bila berkunjung ke Banjar untuk kuliner mandainya.









Buah cempedak yang dibuang kulit luarnya


Buah Cempedak






Ilmu rambu-rambu


 
وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ    ؕ  اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kami tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hatisemuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya " (QS. Al-Isra': Ayat 36)

Segala sesuatu itu perlu ilmu, ya karena tanpa ilmu tidak ada lampu tidak ada cahaya yang menerangi. Bayangkan saja  kita akan melakukan perjalanan naik mobil sendiri ke Jakarta, apa saja yang perlu kita siapkan, coba kita rinci :

  • Bisa menyetir, tentunya kita perlu belajar menyetir mobil kepada siapa kita belajar ya tentunya ke ahlinya yang memahami bidang tersebut, kita kursus  atau belajar kepada orang yang sudah berpengalaman menyetir mobil.
  • SIM (Surat Ijin Mengemudi), kita tahu peraturan di Indonesia walaupun kita sudah bisa naik mobil tetapi tidak punya SIM ya tentu tidak di ijinkan karena nanti akan kena tilang, sehingga perlu belajar peraturan lalulintas, sehinga faham rambu-rambu lalulintas.
  • Tahu rute perjalanan, sudah bisa naik mobil dan punya SIM belum cukup, perlu faham rute perjalanan yang aman dan nyaman, ilmunya ya bertanya dan mengikuti petunjuk perjalanan, bertanya pada orang, pakai teknologi  maps, taati peraturan lalulintas.
  • Bekal, tidak kalah penting bekal perjalanan jangan lupa kita perlu uang untuk beli bahan bakar, makanan diperjalanan, sehingga kita perlu tahu ilmunya mana premium, mana solar berapa harganya biar tidak tertipu.
Konsekuensi bila  kita melanggar aturan berlalulintas adalah  kita akan kena tilang yang harus kita pertanggungjawabkan pada orang atau lembaga yang menentukan peraturan, karena bisa membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain. Demilkianlah ilmu  naik mobil ke Jakarta, tentunya pekerjaan-pekerjaan lain juga perlu ilmu. Demikian juga dengan ibadah, dalam ibadahpun kita jangan mengira-ngira, kata si fulan  ini baik ini tidak, ini berdosa dan ini berpahala, semua perlu ilmu, bukan kata si fulan. Karena sesungguhnya "ini baik dan benar itu dari Allah bukan menurut angan-angan kita yang kosong" (An-Nisa' :123). 
  
Sehingga kita tidak menjadi orang-orang seperti ini :

قُلْ هَلْ نُـنَبِّئُكُمْ بِالْاَخْسَرِيْنَ اَعْمَالًا   
"(Katakanlah, "Apakah akan Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?)" lafal A'maalan menjadi Tamyiz atau keterangan pembeda yang bentuknya sama dengan Mumayyaz. Kemudian Allah swt. menjelaskan siapa mereka yang merugi itu, melalui firman berikutnya."
(QS. Al-Kahf: Ayat 103)

اَ لَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا
"(Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini) amal perbuatan mereka batil tidak diterima (sedangkan mereka menyangka) menduga (bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya) yang pasti mereka akan menerima pahala karenanya."
(QS. Al-Kahf: Ayat 104)

Allah SWT berfirman:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهٗ لَهَمَّتْ طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ اَنْ يُّضِلُّوْكَ   ؕ  وَمَا يُضِلُّوْنَ اِلَّاۤ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّوْنَكَ مِنْ شَيْءٍ   ؕ  وَاَنْزَلَ اللّٰهُ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ  ؕ  وَكَانَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا
"Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (Muhammad), tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka hanya menyesatkan dirinya sendiri, dan tidak membahayakanmu sedikit pun. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar." (QS. An-Nisa': Ayat 113)

Demikianlah kita dituntut menjadi orang yang berilmu sehingga menjadi cerdas tidak mudah dikelabui orang lain. Ilmu dulu baru bertindak, karena apa yang kita lakukan mulai mata, pendengaran dan rajanya yaitu "hati" akan diminta pertanggungjawabanya, dan semua kembali ke kita seperti pengendara mobil di atas.

Aku hanya mengikuti nenek moyang....

Mari kita perhatikan ayat berikut bagaimana cara beribadah orang-orang dahulu :

قَالُوْا نَـعْبُدُ اَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عٰكِفِيْنَ
"Mereka menjawab, "Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya."(QS. Asy-Syu'ara': Ayat 71).
قَالَ هَلْ يَسْمَعُوْنَكُمْ اِذْ تَدْعُوْنَ 
"Dia (Ibrahim) berkata, "Apakah mereka mendengarmu ketika kamu berdoa (kepadanya)?,"(QS. Asy-Syu'ara': Ayat 72)
اَوْ يَنْفَعُوْنَكُمْ اَوْ يَضُرُّوْنَ
"atau (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mencelakakan kamu?""(QS. Asy-Syu'ara': Ayat 73)
قَالُوْا بَلْ وَجَدْنَاۤ اٰبَآءَنَا كَذٰلِكَ يَفْعَلُوْنَ
"Mereka menjawab, "Tidak, tetapi kami dapati nenek moyang kami berbuat begitu."(QS. Asy-Syu'ara': Ayat 74)

Ayat ini memberi gambaran bagaimana mindset beragama, Alhamdulillah kita masih terjaga dalam keyakinan tauhid sebagai fitrah kita karena bimbingan orangtua, yang perlu kita fikirkan apakah cukup sampai disini cara beragama kita, kita diajak  berproses, berpikir untuk taat bukan karena nenek moyang kita. Jadi jangan cepat-cepat mengatakan saya sudah beragama atau saya sudah beriman. Islam adalah agama yang logic tidak membuat sempit dan membuang belenggu atau beban yang ruwet seperti orang-orang terdahulu, peganglah kuat-kuat Al-Quran.

اَ لَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰٮةِ وَالْاِنْجِيْلِ  ۖ   يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰٮهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْ    ؕ  فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَ اتَّبَـعُوا النُّوْرَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ مَعَهٗ ۤ   ۙ  اُولٰۤئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Tafsir Al-Jalalain:
"(Yaitu orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi) yaitu Nabi Muhammad saw. (yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka) lengkap dengan nama dan ciri-cirinya (yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik) dari apa yang sebelumnya diharamkan oleh syariat mereka (dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk) yaitu bangkai dan lain-lainnya (dan membuang dari mereka beban-beban) maksud tanggungan mereka (dan belenggu-belenggu) hal-hal yang berat (yang ada pada mereka) seperti bertobat dengan jalan membunuh diri dan memotong apa yang terkena oleh najis. (Maka orang-orang yang beriman kepadanya) dari kalangan mereka (memuliakannya) yaitu menghormatinya (menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya) yakni Alquran (mereka itulah orang-orang yang beruntung)." (QS. Al-A'raf: Ayat 157).
Demikianlah Al-Qur'an mengajak kita menjadi orang yang cerdas, merubah pola pikir, merubah taqlid membabi buta. 
 
Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. (Al-Maidah:104).

Mereka menjawab: "Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu. (Asy Sua'ra:136-137).
 
Berpegang kepada tali (agama) Allah, maksudnya Al-Qur’an sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

اَلْقُرْانُ حَبْلُ اللهِ اْلمَتِيْنُ. لاَ تَنْقُصُ عَجَائِبُهُ وَ لاَ يَخْلَفُ عَلَى كَثْرَةِ الرَّدّ، مَنْ قَالَ بِهِ صَدَقَ وَ مَنْ عَمِلَ بِهِ رَشَدَ وَ مَنِ اعْتَصَمَ بِهِ هُدِيَ اِلىَ صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. تفسير الكشاف 1: 306
Al-Qur’an itu merupakan tali Allah yang kuat, keajaibannya tidak pernah habis dan tidak membosankan sekalipun banyak yang diulang-ulang. Barangsiapa berkata dengannya, benarlah dia. Dan barangsiapa mengamalkannya, mendapatkan bimbingan. Dan orang yang berpegang teguh padanya mendapat hidayah ke jalan yang lurus. [Tafsir Al-Kasyaaf juz 1, hal. 306]

Dalam Al-Qur’an Allah SWT menyebutkan :

وَ اَنَّ هذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ، وَ لاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِه، ذلِكُمْ وَصّيكُمْ بِه لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. الانعام: 153
Dan bahwa (Al-Qur’an) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu Kami washiyatkan kepadamu, agar kamu bertaqwa. 
[QS. Al-An’aam : 153] 

Demikian juga bila cara beragama kita  hanya berdasarkan pendapat atau tingkah laku ulama kita, guru kita. siapa saja dan dari mana saja entah dia raja atau rakyat jelata  (taqlid buta) dalam hal menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah atau bahkan seakan-akan  menjadikan Tuhan yang bisa memberikan manfaat dan mudharat berarti kita memiliki sifat mindset yang sama dengan orang-orang dahulu.

اِتَّخَذُوْۤا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ  ۚ  وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَـعْبُدُوْۤا اِلٰهًا وَّاحِدًا  ۚ  لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ   ؕ  سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

"(Mereka menjadikan orang-orang alimnya) dimaksud adalah ulama-ulama Yahudi (dan rahib-rahib mereka) para pendeta Nasrani (sebagai tuhan selain Allah) karena para pengikut agama Yahudi dan Nasrani mengikuti mereka dalam hal menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh-Nya (dan juga mereka mempertuhankan Almasih putra Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan) oleh kitab Taurat dan kitab Injil mereka (melainkan hanya menyembah) maksudnya mereka disuruh supaya menyembah (Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, Maha Suci Allah) lafal subhaanahu mengandung arti menyucikan Allah (dari apa yang mereka persekutukan)."
(QS. At-Taubah: Ayat 31)



Dengan demikian dalam beragama jangan melihat "siapa yang mengatakan" tapi lihat "apa yang dikatakan",  Al-Quran yang akan membawa kita jalan yang jelas dan lurus, tidak terombang-ambing oleh banyak sedikitnya orang, siapa yang bilang tapi dasar hukum yang dipegang, dan semua itu didapat hanya dengan mengkaji Kitabullah, menghadiri majlis-majlis ilmu.

Ketika merasa menderita...



وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّعْبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرْفٍ  ۚ  فَاِنْ اَصَابَهٗ خَيْرٌ  اِطْمَاَنَّ بِهٖ  ۚ  وَاِنْ اَصَابَتْهُ فِتْنَةُ اِنقَلَبَ عَلٰى وَجْهِهٖ  ۚ  خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةَ    ۗ  ذٰ لِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ
"Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi, maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata."
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 11)

وَاِذَا مَسَّ الْاِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْۢبِهٖۤ اَوْ قَاعِدًا اَوْ قَآئِمًا ۚ فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهٗ مَرَّ كَاَنْ لَّمْ يَدْعُنَاۤ اِلٰى ضُرٍّ مَّسَّهٗ ؕ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
"Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan." (QS. Yunus: Ayat 12)


Apakah kita pernah merasakan saat-saat kritis, saat dimana kita dalam posisi tidak berdaya, dalam tekanan bahaya, menderita atau terasa kematian mengancam diri kita, Saudara kita atau anak-anak kita saat di laut, di udara atau di darat?, pada saat itu tabiat manusia akan berdoa sekonyong-sekonyong membutuhkan Tuhannya dan berjanji menjadi orang yang bersyukur, tetapi ketika ancaman itu telah tiada dia akan kembali seperti semula.

Seperti kisah ini,

هُوَ الَّذِيْ يُسَيِّرُكُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ؕ حَتّٰۤى اِذَا كُنْتُمْ فِى الْفُلْكِ ۚ وَ جَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيْحٍ طَيِّبَةٍ وَّفَرِحُوْا بِهَا جَآءَتْهَا رِيْحٌ عَاصِفٌ وَّجَآءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَّظَنُّوْۤا اَنَّهُمْ اُحِيْطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۙ  لَئِنْ اَنْجَيْتَـنَا مِنْ هٰذِهٖ لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِيْنَ
"Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan (dan berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan tulus ikhlas kepada Allah semata (seraya berkata), "Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur." (QS. Yunus: Ayat 22)

Rumah Jomblo Banjarbaru

Kata orang di kenal dengan nama Rumah Jomblo maksudnya sendirian di atas bukit, lokasi di Gunung Kupang Banjarbaru bekas galian tanah.

(foto di sore hari 2 Jan 2017)







Content List

Loading ... sabar ya...
Widget by Blogger
Sugeng Pinanggih...
Welcome....

Blog ini adalah migrasi dari fambudi.multiply.com yang berakhir 31 Desember 2012. Harapan kami blog ini bisa digunakan untuk menulis berbagai hal seputar kehidupan ini meliputi sosial, ekonomi dan bisnis, budaya dan tidak kalah penting adalah ilmu.

Sebelumnya kami minta maaf apabila ada kata kata yang tidak berkenan kepada para pembaca semua.

Kebenaran adalah milik Allah dan kesalahan adalah saya karena sifat jahilnya.

"Sesungguhnya solat, ibadah, hidup dan mati hanya karena Allah"


-0- -0-